Menemukan Hidroponik
Gardening,  Hydroponic

Menemukan Hidroponik

 

“Bu, aku mau menanam bunga di halaman rumah.” Kataku sambil lihat-lihat majalah BOB* yang sedang mengulas tentang bunga. Majalah tersebut sangat digandrungi anak SD kala itu karena banyak sekali ilmu pengetahuan dan cerita menarik di tiap Minggu nya.

“Nanti gak ke urus dek..” kata ibuku sambil bersiap-siap untuk ke kantor.

Tak lama berselang yakni beberapa Minggu kemudian, majalah tersebut memberikan bonus benih bunga yang bisa di tanam oleh anak-anak.

Aku sangat antusias melihat bungkusan plastik berisi benih yang ditempel tepat di depan cover majalah tersebut.
Lalu aku terdiam.

Bagaimana cara aku menanamnya?

 

Puluhan tahun berlalu sudah. Tak pernah terpikirkan olehku mempunyai hobi menanam tanaman.

Pertama kali aku menanam dengan hidroponik, aku menggunakan keranjang, dengan air untuk menanam kangkung.
Hasilnya? Seperti tanaman rambat! Hahaha.
Aku gak tahu semua tanaman butuh matahari.

Di belakang rumah, ada atap yang transparan untuk cahaya matahari masuk. Tapi ternyata gak cukup.
Aku coba menanam bawang merah dari bekas dapur, pakai aerator, sama saja. Gagal.

Akhirnya, tanaman pertama yang berhasil ku tanam adalah.. Kangkung.
Bermodal box plastik, lalu aku beli netpot, dan cari Styrofoam dan flanel di toko grosiran dekat rumah, jadilah hidroponik wick sistem pertamaku.
It was ugly.
But it was working. Saya taruh bak nya di tower air, yang mana mendapatkan banyak cahaya matahari.

Karena kangkung bisa panen cepat, aku bisa menikmati kangkung hidroponik pertamaku.

Segar.
Hijau.
Akarnya bersih.
Benar-benar segar dan bersih batang dan daunnya.

I fell in love instantly with hydroponic.

Itu setahun lalu. Sejak hamil, aku gak mau ngurus tanaman atau yang berbahan kimiawi.
Well, I didn’t know if it was safe or not. Better not.

Hingga anak ku sekarang satu tahun.
Sejak pandemi dan di rumah, aku mencoba menggeluti kembali hobi ku tersebut.

I feel more grounded when I am with my plants
A lot of things have happened in my life, and this nurturing activity actually nurture my life and soul.

Selain mendapat kan sayur hasil panen, dalam prosesnya pun aku melepas segala penat dan mendapatkan “me time” yang menyenangkan.

Apakah selalu berhasil menanam dengan hidroponik?
Tentu tidak.
Di rumah, tantangan terbesar nya adalah sinar matahari.
Sinarnya minim di belakang.
That’s why Kangkung pertamaku kaya tanaman rambat.
Alias Etiolasi.

However, what’s more important than a result?
Experience and process.
Kita belajar dari kesalahan.
It is fun growing things!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *